Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2016

Pengalaman Spiritual di Singapura

PENGALAMAN SPIRITUAL DI SINGAPURA “Kita tidak usah malu meyakini kebenaran dan mengambilnya dari sumber mana pun ia datang, bahkan walau seandainya ia dihadirkan kepada kita oleh generasi terdahulu dan orang asing” (Al-Kindi) Entah sejak kapan aku mulai terjun di dunia agama-agama tapi setidaknya ada dua buah faktor yang membuatku tertarik akan hal ini. Pertama, aku harus banyak berterima kasih kepada Universitas Pendidikan Indonesia yang telah menyediakan mata kuliah Studi Masyarakat Indonesia. Berkatnya, aku diberi pengetahuan yang luas mengenai agama-agama –termasuk aliran keagamaan- yang ada di Indonesia. Bahkan karena mata kuliah ini akhirnya aku berkesempatan berbincang-bincang dengan salah seorang tokoh Syiah dan Pendeta Kristen HKBP di Bandung. Inilah batu loncatan pertamaku. Faktor kedua, setelah mendapat stimulus dari mata kuliah tersebut, aku mulai mencari informasi-informasi mengenai hubungan antar umat beragama. Sedikit terkejut sekaligus bahagia setelah menge

"Fundamentalis" vis a vis "Liberalis": Dilema Seorang Pemikir Bebas

"Fundamentalis" vis a vis "Liberalis": Dilema Seorang Pemikir Bebas Padahal baru dua hari yang lalu Saya menulis tentang Pare Kampung Inggris- dan orang-orangnya. Di tulisan itu Saya sedikit lupa untuk memberitahukan bahwa orang-orang yang ada di sini hampir seluruhnya adalah pendatang, sedangkan warga aslinya bisa dihitung dengan jari. Ada yang datang dari Barat seperti Padang, Lampung, Bekasi, Bandung, Pelembang, hingga timur nan jauh,  Nusa Tenggara Timur dan Makassar. Betapapun, sejauh ini Saya belum pernah melihat orang Papua berseliweran di "“negeri"” para pencari beasiswa ini. Akibatnya, kalau enggan dikata berlebihan, Pare, khususnya kawasan Kampung Inggris bisa disebut-sebut sebagai miniaturnya Amerika karena keheterogenannya. Implikasinya, semua hal ada di sini. Yang ndeso ada, yang modern-borjuis pun ada. Yang soleh banyak, yang “"kafir"” juga ada. Ada yang diam-diam membaca Al-Qur’'an di sudut masjid tapi ada juga yang me

Serba-Serbi Kampung Inggris Pare: Orang-orang dan Kulturnya

Serba-Serbi Kampung Inggris Pare: Orang-orang dan Kulturnya Sebenarnya sudah lama Saya ingin menulis pengalaman berada di Kampung Inggris, setidaknya pernah terbenak sejak hari-hari awal berada di sini, tapi entah karena bisikan-bisikan ar-rajim yang selalu mengelus-elus kemalasan saya atau mungkin saja karena kodrat yang condong mengarahkan Saya menjadi seorang yang pemalas. Untung ada Kang Gelar, senior Saya saat ngampus di UPI yang memosting tulisannya di facebook tentang kehidupannya di Birmingham, membuat tangan ini gatel untuk mengikutinya. Kenapa Saya harus pergi ke Kampung Inggris? Alasannya cukup pragmatis, karena Saya ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi di kampus impian (Insyaallah Birmingham University, jurusan Islam-Christian Relation). Mungkin kalian bertanya, “kalau hanya itu alasannya, kan bisa kamu kursus di tempat yang lebih dekat dengan tempat tinggal, tanpa harus jauh-jauh pergi ke Jawa Timur.” Hey dude, Saya sudah mencobanya berkali-

"Bangga" Menjadi Perokok

Kegiatan hisap-menghisap rokok yang setiap hari kita temui dimanapun, tergolong diantara banyak hal di negeri ini yang bagi saya bukan sekadar untuk meningkatkan rasa gagah dan percaya diri, melainkan juga amat menumbuhkan rasa bangga sebagai bangsa Indonesia. Tapi sayangnya saya kurang beruntung belum dapat menikmatinya secara maksmimal karena selama empat tahun saya tinggal di dekat Lembang (Bandung) yang udaranya masih minim kandungan asap-asap rokok. Hal ini diperparah dengan aktivitas saya yang bergabung dengan komunitas perdamaian –di Bandung- yang pusatnya berada di Jogja, disana pun saya belum pernah melihat ada di antara mereka yang merokok. Untuk itu saya sering mencuri-curi waktu ke Bandung kota atau ke kota kelahiran saya, Bekasi, hanya untuk menghisap gumpalan asap rokok. Saya menari-nari riang gembira melihat banyak sekali orang yang merokok disana. Saya merasa beruntung sekali –di dalam hidup ini- masih diberi kesempatan oleh Tuhan untuk dapat menikmati pemand