Langsung ke konten utama

Siti Maryam

http://gambar2rohani.wordpress.com/2012/12/23/bunda-maria-ratu-para-rasul/bunda-maria-ratu-para-rasul/
Hamka (1984) Maryam adalah anak perempuan dari ‘Imrān. Dari hal kesucian Maryam, bagaimana nazar ibunya, jika beranak laki-laki maka akan diserahkan jadi penjaga rumah suci Baitul Maqdis, supaya kehidupan keluarga beragama jangan terputus. Tetapi setelah lahir ternyata perempuan, namun nazarnya dteruskan juga. Anak kecil itu dibawanya ke masjid. Untung sekali karena kepala pemelihara masjid ialah Nabī Zakariyā sendiri. Sedang Nabī Zakariyyā adalah suami daripada saudara perempuan ibu Maryam. Maka Nabī Zakariyyā itulah yang mengasuhnya dan mendidiknya, sampai dia menjadi gadis yang ṣālih dan suci.
Allāh  Ta’ālã berfirman: “Dan ceritakanlah (kisah) Maryam di dalam Alquran, yaitu ketika ia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat disebelah timur, maka ia mengadakan tabir (yang melindungi nya) dari mereka...” (QS. Maryam : 16-17). Ketika itu Maryam keluar menuju samping Miḥrāb karena haid yang dialaminya, lalu ia membuat tirai dari dinding, agar tidak terlihat. Setelah ia suci, tiba-tiba ada seorang laki-laki yang bersamanya. (Mas'ud, 2009)
Dalam Quraish Shihab (2002) Ketika Maryam melihat kehadiran manusia yang tidak dikenal dan dalam keadaan Maryam sedang menyendiri dan menghindar dari keluarganya, timbul rasa takut dihati gadis duci itu. Sesuai dengan sabda-Nya:“...lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata: ‘ Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan yang Maha Pemurah, jika kamu seorang yang bertaqwa.” (QS. Maryam:  17-18)
Firman Allāh Ta’ālã: “Ia (Jibrīl) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan tuhanmu.” Yakni malaikat tersebut mengajaknya berbicara seraya berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu.” Yakni aku bukanlah manusia, namun aku adalah malaikat yang diutus oleh Allāh kepadamu. Malaikat tersebut berkata: “untuk memberimu seorang anak laki- laki yang suci”. (Katsir, 2010)
Allāh  Ta’ālã  berfirman: “Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!" Jibrīl berkata: "Demikianlah. Tuhanmu berfirman: "Hal itu adalah mudah bagi-Ku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan." (QS. Maryam : 20-21). Mendengar ucapan ucapan malaikat tentang anugerah anak itu, Maryam terheran-heran sehingga dia yakni Maryam berkata: “Bagaimana dan dengan cara apa akan ada bagiku seorang anak laki-laki yang kulahirkan dari rahimku, sedang tidak pernah seorang manusia pun menyentuhku, yakni melakukan hubungan seks dengan cara halal dan aku bukan pula sejak dahulu hingga kini seorang pezina yang rela melakukan hubungan seks tanpa nikah yang sah. Ucapan Maryam menafikan sentuhan manusia, mengandung makna bahwa ia belum pernah berhubungan seks. Ini ditegaskannya karena ketika itu beliau telah dipinang oleh Yūsuf an-Najjār, dengan demikian boleh jadi timbul dugaan bahwa telah terjadi sesuatu antara keduanya bila ia hamil, di sisi lain bila kehamilan terjadi pastilah tunangannya akan sangat kecewa dan marah. Adapun pernyataannya bahwa beliau bukan seorang pezina atau wanita lajang, maka ini untuk menegaskan bahwa sejak dahulu beliau bukanlah seorang asusila, dan itu akan dipertahankannya hingga masa datang. Malaikat Jibrīl menampik keheranan Maryam. Ia, yakni Jibrīl berkata:”Demikianlah! Yakni benar apa yang engkau katakan. Engkau memang tidak pernah “disentuh” oleh siapa pun dan juga bahwa seorang anak lahir akibat hubungan seks pria dan wanita, kendati demikian, Tuhanmu berfirman: “Hal itu, yakni kelahiran anak tanpa hubungan seks bagi-Ku secara khusus adalah mudah; Kami melakukan itu sebagai anugerah untukmu dan Kami menciptakannya seorang anak tanpa melalui hubungan seks agar Kami menjadikannya suatu tanda yang sangat nyata tentang kesempurnaan kekuasaan-Ku sehingga menjadi bukti bagi manusia dan untuk menjadi rahmat dari Kami buat seluruh manusia yang menjadikannya sebagai petunjuk; dan hal itu, yakni penciptaan seorang anak, dalam hal ini ‘Īsā  as melalui Maryam tanpa ayah adalah sesuatu perkara yang sudah diputuskan yakni pasti akan terjadi. Karena itu wahai Maryam terimalah ketetapan Allāh  itu dengan penuh suka cita dan hati tenteram. (Shihab, 2002)
    Yakni kami menjadikan penciptaannya dalam kondisi seperti itu sebagai bukti kesempurnaan qadrah kami atas penciptaan makhluk. Sesungguhnya Allāh Ta’ālā menciptakan Ādam tanpa adanya laki- laki dan perempuan. Demikian hanya Dia menciptakan Ḥawā dari seorang laki- laki tanpa adanya seorang perempuan. Dan Dia menciptakan ‘Īsā dari seorang perempuan tanpa adanya seorang laki- laki. Dia menciptakan manusia yang lain dari laki- laki dan perempuan. (Katsir, 2010)
    Maka Jibrīl memegang lengan bajunya lalu meniupkan ke saku bajunya yang bagian depannya terbelah, lalu tiupan tersebut masuk ke dalam dadanya yang menyebabkannya hamil. (Mas’ud, 2009)
    Disebutkan oleh sejumlah ulama salaf bahwasanya Jibrīl meniupkan ruh ke  dalam lubang lengannya lalu tiupan ruh tersebut turun ke farjinya dan seketika ia pun hamil, sebagaimana seorang wanita yang digauli oleh suaminya. Barangsiapa yang berpendapat bahwa Jibrīl meniupkan ruh ke dalam mulut Maryam atau pun yang berpendapat bahwa yang berbicara dengan Maryam adalah ruh yang kemudian masuk melalui mulutnya adalah pendapat yang meyelisihi apa yang dapat dipahami dari beberapa redaksi kisah di atas dalam beberapa ayat didalam Al-Qur’ān. Diantara redaksi-redaksi tersebut menunjukkan bahwa yang diutus kepada Maryam adalah salah satu malaikat, yaitu Jibrīl –‘Alayhissalām-. Kemudian ia meniupkan ruh ke dalam rahimnya. Jibrīl tidak mengarahkan ke arah farjinya namun ia meniupkannya kearah lubang  bajunya, kemudian ruh tersebut turun kearah farjinya lalu masuk, sebagaimana yang tertera dalam firman Allāh Ta’ālā: “Maka kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) kami”. Hal ini menunjukkan bahwa tiupan ruh tersebut masuk ke dalam rahim bukan di mulut Maryam. (Katsir, 2010)
    Kemudian saudara perempuannya yaitu istri Zakariyyā mengunjunginya pada malam hari. Ketika ia membuka pintu ia langsung memeluknya dan berkata. Maka istri Zakariyyā bertanya,
”Wahai Maryam, apakah kamu merasakan aku hamil?.”
Maryam bertanya,”Apakah kamu merasakan aku hamil?.”
Istri Zakariyyā berkata,”Sesungguhnya aku mendapati dalam perutku menendang-nendang terdapat dalam perutmu.”(Mas’ud, 2009)
    As Suddiy menyebutkan dengan sanadnya dari para sahabat bahwa suatu hari Maryam menemui saudara perempuannya. Maka saudaranya tersebut berkata kepadanya: “Aku merasa bahwa aku sedang hamil”. Maryam pun berkata: “Aku juga merasa bahwa saya sedang hamil”. Maka Maryam merangkulnya. Ummu Yaḥyā berkata kepadanya: “Aku melihat janin yang ada di perutnya tengah sujud kepada janin yang ada di perutmu”. Diriwayatkan dari Mujāhid, ia berkata: “Maryam berkata: “Ketika aku tengah sendirian, maka ia (‘Īsā) mengajakku berbicara dan berbincang-bincang. Namun bila aku bersama orang-orang maka ia bertasbih di dalam perutku. (Katsir 2010)
    Allāh  Ta’ālã  berfirman: “Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, ia berkata: "Aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan". (QS. Maryam: 22-23) Mayoritas ulama menegaskan bahwa kelahiran Nabī ‘Īsā  as. melalui proses biasa, yakni kehamilan selama sembilan bulan, bukannya seperti pendapat sementara orang bahwa itu terjadi sekejap, antara lain dengan menunjuk firman-Nya yang mengatakan bahwa Ādam dan ‘Īsā  as. dilahirkan dengan kalimat kun fayakūn. Sebenarnya kalimat kun fayakūn sama sekali bukan berarti terjadinya sesuatu dengan kalimat itu atau dalam masa pengucapan kalimat itu. Bukankah terbaca di atas, bahwa ada proses yang terjadi pada saat kelahirannya, proses yang memakan waktu lebih lama dari masa pengucapan kalimat kun fayakūn? Itu masa kelahirannya, sedang masa kehamilannya tidak disinggung disini. Ayat ini hanya mengisyaratkan bahwa setelah kehamilan itu-agaknya setelah tanda-tanda kehamilannya telah sangat sulit disembunyikan-maka ia menjauh dari keluarganya. Banyak ulama berpendapat bahwa lokasi yang dipilihnya adalah Bait Laḥem, satu daerah sebelah selatan al-Qudus (Yerusalem) di Palestina, dan di sanalah Nabī ‘Īsā  as. dilahirkan.(Shihab, 2002)
    Dari Ibn ‘Abbās dan ‘Ikrimah disebutkan bahwasanya Maryam mengandung ‘Īsā selama delapan bulan. Sedangkan dari Ibn ‘Abbās bahwasanya Maryam hanya hamil sebentar lantas melahirkan. Sebagaimana ulamamengatakan: “Maryam hamil selama sembilan jam.” (Katsir, 2010)
Maka istri Zakariyyā melahirkan Yaḥyā. Kemudian telah tiba waktu melahirkan, Maryam keluar menuju samping Mihrab (yaitu sebelah timurnya, lalu ia mendatangi tempat yang paling jauh darinya. (Mas’ud, 2009)
Firman Allāh Ta’ālã: “Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma.” Yakni ia berlindung dan menyandarkan diri pada pangkal pohon kurma tersebut. Hal ini sesuai dengan nash hadits yang diriwayatkan oleh An Nasāi dengan sanad laaba’sa bih (tidak mengapa) dari Anas secara marfu’, al Baihaqiy dengan sanadnya dan ia menṣahihkannya dari Syaddād bin ‘Aus secara marfu’ pula. Yaitu di Bait Laḥem yang kemudian dari sebagian raja Romawi membangun bangunan di atasnya sebagaimana yang akan kami sebutkan tentang bangunan yang sangat megah tersebut. (Katsir, 2010)
    Firman Allāh Ta’ālã: “dia berkata: “aduhai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan.” Dalam hal ini mengandung dalil dibolehkannya meminta kematian ketika terjadi fitnah. Sebab, Maryam mengetahui bahwa orang-orang akan menuduhnya dan mereka tidak akan  mempercayainya. Bahkan mereka akan mendustakannya ketika Maryam membawa anaknya kepada mereka. Meskipun mereka telah mengetahui bahwa Maryam adalah wanita ahli ibadah yang ikhlāṣ dan tinggal di samping masjid yang senantiasa berada di dalamnya dan beri’tikaf di sana juga ia berasal dari keluarga Nabī dan orang yang memiliki agama. Karena hamilnya tersebut ia berangan- angan untuk mati sebelum ini, dan menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan. Yakni lebih baik ia tidak diciptakan. (Katsir, 2010)
        Allāh  Ta’ālã  berfiman:“Maka Jibrīl menyerunya dari tempat yang rendah: "Janganlah kamu bersedih hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepĀdamu”.(QS. Maryam: 24-25)
Keadaan Maryam as. yang demikian sedih dan ucapannya yang menggambarkan kecemasan itu diketahui dan didengar juga oleh malaikat Jibrīl as. Tidak lama kemudian beliau melahirkan seorang anak lelaki maka ia, yakni malaikat Jibrīl, atau Nabī ‘Īsā  begitu dia lahir menyerunya dari tempat yang rendah dibawahnya berkata: “Janganlah wahai Maryam engkau bersedih hati karena ketersendirian, atau ketiadaan makanan dan minuman dan kekhawatiran gunjingan orang. Mayoritas ulamamemahami bahwa yang menyeru dari bawah tempat Maryam berada itu adalah malaikat Jibrīl as. Pendapat lain menyatakan bahwa yang menyerunya adalah ‘Īsā  as. yang baru saja lahir itu. Ia yang berpesan kepada ibunya untuk menggerakkan pohon kurma dan lain-lain. Mayoritas ‘ulamā memahami kata sariyyan dalam arti anak sungai atau telaga. Para ulama menduga peristiwa kelahiran ‘Īsā  as. terjadi di musim dingin, sedangkan kurma hanya berbuah di musim panas, dan sangat sulit bertahan di musim dingin. Selanjutnya ulamaitu menulis bahwa barangkali beliau sengaja diarahkan ke pohon kurma karena banyaknya keserasian antara pohon kurma dengan peristiwa kelahiran itu. Pohon kurma tidak dapat berbuah kecuali setelah melalui proses perkawinan, sedang di sini buahnya berjatuhan tanpa pernikahan dan hanya dengan gerakan yang dilakukan oleh Maryam, persis sama dengan apa yang dialami oleh kelahiran anak Maryam yang tanpa perkawinan itu. Yang lebih aneh lagi bahwa itu terjadi bukan pada masa berbuahnya kurma. (Shihab, 2002)
‘Amr bin Maymūn berkata: “Tidak ada sesuatu yang paling bagus bagi wanita- wanita yang sedang nifas selain kurma dan ruṭāb (jenis kurma. Pentj.)” (Katsir, 2010)
Ayat diatas menisyaratkan bahwa buah kurma merupakan makanan yang sangat baik bagi wanita yang sedang dalam masa nifas/selesai melahirkan, karena ia mudah dicerna, lezat lagi mengandung kalori yang tinggi. Perlu digaris bawahi bahwa sangat populer di kalangan umat Kristen bahwa ‘Īsā  as. lahir pada tanggal 25 Desember, dan ini berarti ketika itu adalah musim dingin. Namun demikian dalam Perjanjian Baru dinyatakan bahwa ketika Maryam as. akan melahirkan beliau tidak menemukan penginapan. “Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjadi kawanan ternak mereka di waktu malam”, demikian dalam Perjanjian Lama, Lukas II: 8. Adanya penggembala dan di waktu malam, mengesankan bahwa ketika itu bukanlah di musim dingin, karena para penggembala tidak akan menggembalakan pada malam hari musim dingin. Ini lebih sesuai jika terjadinya pada musim panas. Jika demikian halnya inipun sejalan dengan ayat Alquran yang menyatakan bahwa Maryam as. diperintahkan untuk menggerakkan pohon kurma itu agar buahnya berjatuhan, karena pohon kurma tidak berbuah kecuali di musim panas. Dengan demikian, dari satu sisi kita dapat berkata bahwa berjatuhannya buah kurma ketika itu bukanlah sesuatu yang aneh atau ajaib seperti tertulis al-Biqā’i dan Ibn ‘Āsyūr, di sisi lain agaknya dapat juga dibenarkan pendapat sementara pakar- baik muslim maupun non-muslim yang menegaskan bahwa kelahiran ‘Īsā  as. bukanlah pada bulan Desember. (Shihab, 2002)
Allāh  Ta’ālã  berfirman:”Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini”. (QS. Maryam: 26). Allāh mengilhami Maryam as., agar jangan berbicara karena Allāh  bermaksud membungkam semua yang meragukan kesucian beliau melalui ucapan bayi yang dilahirkannya itu. Ini juga mengesankan bahwa tidaklah terpuji berdiskusi dengan orang-orang yang hanya bermaksud mencari-cari kesalahan atau yang tidak jernih pemikiran dan hatinya. (Shihab, 2002, hal. 172)
Allāh  Ta’ālã  berfirman:“Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Hārūn, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina”.(QS. Maryam: 27-28). Ada yang mengatakan: Yang mereka maksud adalah Hārūn, saudara Mūsā. Mereka menyamakan Maryam dengannya dalam hal ibadah. Namun sagat keliru bagi Muḥammad bin Ka’b al Quraḍiy yang mengira bahwa Maryam adalah saudara perempuan Mūsā dan Hārūn secara nasab. Sebab, jarak antara keduanya berabad-abad yang tidak dapat dipungkiri oleh seorangpun meskipun hanya memiliki ilmu yang terbatas. Ia mengira bahwasanya dalam Taurāt menyebutkan bahwa Maryam tersebut adalah Maryam saudara perempuan Mūsā dan Hārūn yang memukul rebana ketika Allāh menyelamatkan Mūsā dan kaumnya serta menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya. Ia beranggapan bahwa Maryam tersebut adalah Maryam (ibu ‘Īsā). Pendapat ini sangatlah bathil dan menyelisihi hadiṡ ṣahīh dan naṣ al Qur’an sebagaimana yang telah kami jabarkan panjang lebar dalam kitab at Tafsir. (Katsir, 2010)
Setelah Maryam melahirkan, syetan pergi lalu memberitahukan kepada Banī Isrā’īl bahwa maryam benar-benar telah melahirkan seorang bayi. Maka mereka datang dengan sangat marah lalu memaggilnya. (Mas’ud, 2009)
Ayat di atas menunjukkan bahwa Maryam as. datang dengan sengaja sambil menggendong anaknya untuk menghadap kaumnya. Dan itu dilakukannya tanpa merasa malu, bahkan dengan penuh percaya diri. Sementara ulamaberkata bahwa itu terjadi setelah berlalu empat puluh hari dari kelahiran ‘Īsā  as. Di sisi lain, dalam Perjanjian Baru disebutkan bahwa saat persalinan Maryam, dia didampingi oleh tunangannya Yūsuf an-Najjār, yang juga mendapat ilham bahwa anak yang dikandung Maryam itu bukanlah hasil perzinahan tetapi anugerah Allāh  Yang Maha Kuasa. (Shihab, 2002)
Mayoritas ulama salaf menyebutkan yang dinukil dari kalangan ahli kitab, bahwasanya setelah mereka merasa kehilangan Maryam maka mereka pun mencarinya. Lantas mereka melewati tempat keberadaan Maryam sedangkan sinar terang benderang berada di sekitarnya. Tatkala mereka mendapatkannya, maka mereka melihat Maryam bersama anaknya. Mereka berkata kepadanya, sebagaimana yang tertera dalam firman Allāh Ta’ālã :“Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar.” Yakni perkara yang besar lagi mungkar. Namun pendapat mereka ini masih mengandung perselisihan. Sebab, awal pembahasan bertentangan dengan akhirnya. Karena ẓahir redaksi al Qur’an menunjukkan bahwasanya Maryam membawanya sendiri anaknya dan mendatangi kaumnya dengan menggendongnya. Ibnu Jarir menyebutkan dalam kitab at Tarīkh bahwasanya mereka telah menuduh Zakariyyā berbuat zina dengan Maryam dan mereka hendak membunuhnya. Lantas Zakariyyā lari dari mereka. Mereka mendapatkannya berada didalam  sebuah pohon. Namun iblis memegang ujung bajunya. Lantas mereka menggergaji pohon tersebut sebagaimana yang telah kami kemukakan.Sebagian orang-orang munafik ada yang menuduh Maryam telah berbuat zina dengan sepupunya, Yūsuf bin Ya’qūb an Najjār. Tatkala kondisinya mulai sempit, ia tidak sangggup berbicara apa- apa, maka ketawakalan Maryam kepada Allāh Ta’ālã bertambah besar, yang tersisa hanyalah keikhlasan dan jiwa tawakal. (Katsir, 2010)
    Allāh  Ta’ālã  berfirman:“Maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?" Berkata ‘Īsā : "Sesungguhnya aku ini hamba Allāh , Dia memberiku Al Kitāb (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabī. dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”. (QS. Maryam: 29-32). Maryam as. mendengar tuduhan kaumnya, tetap tegar dan tenang lalu sesuai petunjuk yang diterimanya, maka ia menunjuk kepada anaknya bagaikan berkata ”Tanyalah anak ini, dia akan menjelaskan kepada kalian duduk soalnya!” Mereka, yakni kaumnya berkata,”Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih berada dalam ayunan?” (Shihab, 2002)
Inilah ucapan yang pertama kali terlontar dari mulut ‘Īsā. Yang pertama kali ia ucapkan adalah: “Berkata ‘Īsā: “ Sesungguhnya aku ini hamba Allāh.” Ia mengakui akan penghambaan dirinya kepada Allāh Ta’ālã. Allāh Ta’ālã adalah Rabbnya. Ia mensucikan Allāh Ta’ālã atas perkataan orang-orang yang ẓalim yang mengatakan bahwa dirinya adalah anak Allāh . Tetapi ia adalah hamba dan utusan Allāh serta putera dari salah satu hamba-Nya. Kemudian ia mensucikan ibunya dari apa yang dilontarkan oleh orang- orang yang tidak mengetahui  serta tuduhan- tuduhan yang mereka lontarkan karena keberadaannya, dengan perkataannnya :“dia memberiku al Kitab (Injil) dan dia menjadikan aku seorang Nabī.” Sesungguhnya Allāh tidak menganugerahkan kenabian kepada orang yang seperti mereka kira- semoga Allāh melaknat dan mencela mereka.(Katsir, 2010)
Agaknya yang dimaksud dengan keberkahan yang di sandang oleh Nabī ‘Īsā  as. antara lain adalah aneka manfaat yang dapat diperoleh manusia dari kehadiran beliau, baik dengan penyembuhan-penyembuhan yang terjadi atas izin Allāh  melalui beliau, maupun dengan ajaran dan tuntunan-tuntunan yang beliau sampaikan. (Shihab, 2002)
Ia melanjutkan:“dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup.” Ini merupakan sejumlah kewajiban seorang hamba dalam melaksanakan hak Allāh Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. Yang dengan ṣalāt dan berbaik kepada makhluk dengan zakat. Ibadah tersebut dapat mensucikan jiwa dari akhlak-akhlak yang buruk serta mensucikan harta yang banyak dengan memberikan kepada orang-orang yang membutuhkan sesuai dengan perbedaan golongannya baik berbentuk menghormati tamu, memberikan nafkah kepada isteri dan karib kerabat serta bentuk-bentuk ketaatan dan taqarrub yang lain. Kemudian ia berkata: “Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.”. Yakni Allāh menjadikanku sebagai seorang yang berbakti kepada ibuku. Hal ini sebagai bentuk penekanan atas hak ibu kepada dirinya. Karena ia hanya memiliki ibu saja. Maha Suci Allāh Yang telah menciptakan makhluk-Nya, mensucikannya dan memberinya hidayah kepada setiap jiwa. (Katsir, 2010)
Allāh  Ta’ālã  berfirman:” Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (QS. Maryam: 33). Akhirnya ‘Īsā  as. sang bayi itu, menutup keterangannya dengan berkata atau berdoa bahwa Salam, yakni keselamatan besar dan kesejahteraan sempurna semoga tercurah atas diriku serta keterhindaran dari segala bencana dan aib serta kekurangan pada hari aku dilahirkan, dan pada hari aku wafat, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali di padang Mahsyar nanti. (Shihab, 2002)
    Allāh  Ta’ālã  berfirman:“Itulah ‘Īsā  putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. Tidak layak bagi Allāh  mempunyai anak, Maha Suci Dia. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu, maka Dia hanya berkata kepadanya: "Jadilah", maka jadilah ia. Sesungguhnya Allāh  adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembahlah Dia oleh kamu sekalian. Ini adalah jalan yang lurus.”(QS. Maryam: 34-36) Setelah menguraikan peristiwa kelahiran ‘Īsā  as. ayat ini menutup kisahnya dengan menjelaskan kedudukan beliau, yakni: Itulah sifat-sifat dan ucapan ‘Īsā  putra Maryam. Apa yang Allāh  sampaikan itu menyangkut ‘Īsā  as. dan ibunya adalah firman Allāh  Yang Maha Benar lagi tidak disentuh oleh sedikit kebatilan pun. Itulah hakikat, yang mereka, yakni orang-orang kafir dalam hal itu senantiasa memaksakan diri berbantah-bantahan dan meragukan kebenarannya padahal ia adalah hakikat dan kenyataan yang sangat jelas. Tidak mungkin lagi tidak dapat terbayang dalam benak bagi Allāh  mengangkat anak, Maha Suci Dia dari kepemilikan anak dan dari segala macam kekurangan dan kebutuhan, karena apabila Dia telah menetapkan sesuatu urusan, maka Dia hanya berfirman kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah ia dan dengan demikian, Dia tidak membutuhkan sesuatu, termasuk tidak membutuhkan atau memiliki anak, karena anak adalah cermin kebutuhan makhluk. Bahkan ‘Īsā  as. sendiri mengakui bahwa ia bukan anak-Nya dan menyatakan bahwa sesungguhnya Allāh  Yang Maha Esa tidak mengangkat anak dan Dia adalah Tuhanku Yang memelihara dan membimbingku dan juga Tuhan kamu semua, bahkan Tuhan seru sekalian alam, maka karena itu sembahlah Dia. Ini adalah jalan lebar yang lurus. (Shihab, 2002)
    Firman Allāh Ta’ālã yang artinya: “Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. Maka kecelakaan lah bagi orang-orang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar.” (QS. Maryam: 37). Yakni orang-orang pada zaman itu dan setelah berselisih pendapat tentangnya. Diantara orang-orang Yahudi ada yang mengatakan bahwasanya ‘Īsā adalah anak hasil perbuatan zina. Mereka tetap dalam kekafiran dan penentangan. Yang  lainnya bertolak belakang dengan hal itu. Mereka mengatakan: ‘Īsā adalah Allāh. Sedangkan yang lainnya mengatakan: ‘Īsā adalah anak Allāh. Adapun orang mukmin mangatakan: ‘Īsā adalah hamba Allāh, Rasūl-Nya, putera salah seorang hamba-Nya, yang diciptakan dengan kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari Nya. Mereka orang-orang yang selamat yang mendapatkan kemenangan. Barangsiapa yang menyelisihi hal-hal di atas maka ia termasuk orang-orang yang kafir, sesat, dan jahil. (Katsir, 2010)
    Jika ‘Īsā  dinggap sebagai Nabī hanya karena dia tercipta tanpa ayah, tentu penciptaan Ādam lebih utama dari pada itu. Dan telah disepakati bahwa pendapat yang demikian itu adalah salah. Bahkan, jika pengangkatan ‘Īsā  sebagai Nabī hanya karena keajaiban penciptaannya, maka pendapat itu jauh lebih salah dan merusak. Sebab, sebenarnya yang diinginkan Allāh  dengan semua itu adalah untuk menunjukkan kesanggupan-Nya menciptakan Ādam tanpa adanya laki-laki dan perempuan; menciptakan Ḥawā tanpa adanya perempuan; menciptakan ‘Īsā  tanpa adanya laki-laki, sebagaimana Dia sanggup menciptakan semua manusia lainnya melalui hubungan laki-laki dan perempuan. (Al Maghluts, 2011)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ORGANISASI DAN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

Harun Nasution: Biografi dan Pemikirannya

HARUN NASUTION: BIOGRAFI DAN PEMIKIRANNYA Diajukan untuk memenuhi tugas makalah mata kuliah Pemikiran Islām Kontemporer yang diampu oleh Dr. Endis Firdaus, M.Ag dan Cucu Surahman, M.Ag, MA




Oleh M. Jiva Agung                        (1202282)



PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN AGAMA ISLĀM FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG 2015

KATA PENGANTARPuji dan Syukur kami panjatkan kepada Allāh karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya saya dapat menyusun makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini membahas tentang “Harun Nasution: Biografi dan Pemikirannya”. Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Maka dari itu, harapan saya semoga makalah ini dapat membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, tak lupa juga kritik konstruktif dan saran yang membangun dari anda sangat kami harapkan untuk memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Sikap manusia terhadap binatang dan tumbuh-tumbuhan

Manusia diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi khalifah di muka bumi (Al-Baqarah: 30). Apakah sebenarnya khalifah itu? Ahli tafsir Indonesia, Quraish Shihab menyatakan bahwa kata khalifah pada mulanya berarti menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya. Dapat juga diartikan sebagai wakil. Maka dari itu sahabat Rasul yang empat –Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali- disebut sebagai khulafau-rasyidin. Yaitu wakil Rasul sepeninggal beliau. Kita sering dituntut untuk bertawakal, yang berarti berserah diri. Karena jika manusia telah melakukan usaha dengan semaksimal mungkin, tinggal menyerahkan/ mewakilkan urusannya kepada Sang Khalik. Sehingga manusia disebut khalifah, karena merekalah yang akan menjadi wakil Allah untuk melestarikan bumi ini. Tetapi jangan anda pikir bahwa manusia menjadi berstatus Tuhan yang melakukan sesuatu sekehendaknya. Tidak. Manusia hanya diberikan mandat berupa hal-hal yang telah ditentukan oleh-Nya. Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manus…