Langsung ke konten utama

Yuk kita luruskan niat dalam menimba ilmu



Pelurusan niat dalam menimba ilmu..
Assalamualaikum teman-teman blogger. Semangat pagii !! semoga ga ada rasa bosan untuk pantengin blog gue yah,, hhe
Oia, baru-baru ini gua dapat ilmu baru nih sob, dari dosen dikampus siih.. waktu itu beliau masuk kelas untuk pertama kalinya ketika gua baru menjadi mahasiswa baru. Sama seperti anak-anak baru lainnya, kita pasti akan berfikir kalau-kalau yang namanya dosen itu yang pastinya seorang bapak-bapak tua dengan kepalanya yang botak, berjanggut tebal, serta bakalan memberikan teori-teori  yang akan membuat kepala kita ngebul bahkan pecah,, hahaha lebai.. Eh tapi ini beneran lho, ga nyangka ternyata yang gua pikirkan mengenai pendeskripsian dosen itu menjadi kenyataan.
Dan pintu pun terbuka, seseorang yang terbayang dalam benakku selama ini ternyata berbuah menjadi kenyataan, muncullah seorang bapak-bapak tua, mungkin tingginya pun lebih pendek daripada gua, dan ternyata benar,, beliau juga berkepala botak, tapi tidak berjanggung, berkulit sawo matang dengan mengenakan jas hitam yang diselimuti dengan jas putih panjang, beliau masuk ke dalam ruangan dengan mengucapkan kata-kata yang tidak asing lagi, yup ucapan “assalamualaikum” itu diucapkan oleh beliau dengan peuh lemah lembut. Langsung saja sepatu hitamnya yang masih mulus itu dihentakkan kejalan sebagai tanda kewibawaannya. Dan para mahasiswa pun berdiam membisu bagaikan singa tak bertaring untuk menunggu tindakan apa yang selanjutnya akan dilakukan oleh dosen tersebut. Beliau berjalan menyelusuri beberapa buah lantai, bewarna putih mengkilap untuk sampai kepada meja yang telah disiapkan untuk para dosen. Kami semua memandang dengan penuh keseriusan. Beliau memperkenalkan dirinya sebagai dosen yang berasal dari daerah Tasikmalaya, Jawa Barat tetapi sekarang beliau tinggal bersama dengan keluarganya di Bandung. Singkat cerita setelah beliau memperkenalkan dirinya, tibalah inti dari pembicaraan ini. Yup,, gua akan sharring mengenai materi yang akan disampaikan oleh dosen ini. Begini kisahnya sob..
Karena beliau adalah seorang pakar tafsir dibidang pendidikan, beliau memberi komentar mengenai sistem pendidikan yang saat ini begitu memisah-misahkan antara agama dengan ilmu dunia, atau istilah yang sering beliau katakan ialah “krisis pembelajaran dalam dunia pendidikan” karena dunia pendidikan yang sedang kita alami sedang gencar-gencarnya membanggakan ilmu itu sendiri, bahkan mereka merasa sudah tidak memerlukan agama atau mereka merasa bahwa agama sudah tidak dapat lagi memberikan solusi atau jalan keluar bagi permasalan-permasalahan saat ini. Untuk itu beliau ingin meluruskan paham-paham ini sehingga para pencari ilmu akan tetap berjalan pada tujuan yang sebenarnya. Beliau beranggapan bahwa agama dan wahyu harus menjadi pembimbing ilmu pengetahuan karena agama adalah sebuah keyakinan, sedangkan ilmu adalah sebuah pembuktian dan pembenaran wahyu, maka patutlah kita sebagai seorang penuntut ilmu harus berangkat dari keyakinan, bukan dari keragu-raguan yang biasa dilakukan oleh beberapa orang barat. Beliau mengatakan, bahwa selama pengkajian sebuah cabang ilmu –ilmu apapun itu- jika dilakukan secara komprehensif dan objektif, maka tidak akan menimbulkan kontroversi ataupun berlawanan dengan apa yang ada di Al-Qur’an maupun hadits. Tidak seperti keadaan  malang yang dialami oleh Galileo Galillei, beliau harus menerima kenyataan  menyedihkan dari hasil penemuannya itu yang menyatakan bahwa bumi itu bulat. Karena penemuannya itu sejalan lurus/ bertentangan dengan kitab injil yang berkata bahwa bumi itu datar, maka ia pun harus di bunuh oleh pihak vatikan.
Wah, ketika gua lihat keadaan sekitar ruangan, semua mata tertuju kepada dosen tersebut. Mungkin itu karena mereka merasa kagum dengan apa yang disampaikan kepadanya dan mungkin juga karena sikap penasaran mereka yang menggebu-gebu karena tidak sabar untuk menanti perkataan apa yang akan disampaikannya lagi…
Dan pembicaraan pun dilanjutkan,, beliau memberi contoh mengenai indahnya pola pendidikan yang diajarkan Allah kepada manusia. Yuk bisa kita lihat dalam surat Ar-Rahman ayat satu sampai tujuh. Yaudaaah.. cepatan dibuka al-qur’an.nya ,, hhe
Beliau berkata, bahwa Al-Qur’an itu memiliki sebuah kebenaran yang mutlak, tidak dapat diganggu gugat ataupun diragukan kebenarannya. Tetapi perihal penafsirannya, maka dapat disesuaikan dengan zaman tanpa merubah makna-makna substansinya ataupun nilai-nilai globalnya, karena Allah menuntut manusia di setiap zamannya untuk memperdalam ilmu sesuai dengan zamannya.
Ok, Dari pada kita berpanjang-lebar, lagsung saja ke penafsiran surat Ar-Rahman. Pada ayat pertama sampai ayat keempat, dengan sangat indahnya Allah memperknalkan dirinya sebagai Tuhan yang Maha Pemurah, beliau tidak membedakan sedikitpun --yang berkaitan dengan rahmatnya-  antara manusia yang islam dengan non islam. Selama mereka ingin berusaha, maka mereka pasti akan mendapatkan rahmatnya yang Maha Luas itu. Di ayat-ayat selanjutnya, beliau menjelaskan bahwa Allah juga semua yang dilakukan oleh manusia tidak akan terlepas dari kehendaknya. Jadi semua manusia, baik yang patuh kepada Allah ataupun yang membangkang, mereka semua berada dalam genggaman-Nya. Di ayat kelima, Allah memulai memperkenalkan dirinya kepada manusia dengan salah satu makhluk-Nya seperti matahari dan bulan. Beliau menjelaskan bahwa jika manusia ingin mengenal Allah, maka manusai harus mempelajari tentang matahari dan bulan. Bagaimana matahari terbit, tenggelam, beredar, yang mungkin kesemuanya itu dapat kita temui pada cabang ilmu astronomi. Dengan kita mengenal hal-hal itu, maka kita akan terkejut dengan penuh rasa kagum serta bersujud karena kita  –secara terpaksa maupun tidak- akan mengakui ke Maha Besaran-Nya. Begitu serasi dan seimbangnya Allah telah menciptakan seluruh alam dan isinya itu tanpa ada kepincangan ataupun kecacatan. Begitu pula dengan ayat yang keenam, Allah akan memperkenalkan dirinya dengan menunjukkan semua ciptaan-ciptaannya yang begitu sempurna yang kesemuanya itu berjalan sesuai dengan kehendak-Nya. Subhanallah 
Kesimpulannya, jika kita mempelajari sebuah ilmu –cabang apapun itu- dengan tetap tertuju kepada Allah dan menjadikan-Nya sebagai sentral, maka kita tidak akan menjadi manusia yang sombong dengan ilmu yang didapat, bahkan kita akan selalu tertunduk dengan semua kebesaran-kebesaran yang ditampakkan-Nya kepada kita. Dan beliau berharap, semoga bangsa ini akan menjadi bangsa yang tetap tertuju kepada tujuan yang benar dan hakiki. Yaitu Allah semata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

ORGANISASI DAN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

Harun Nasution: Biografi dan Pemikirannya

HARUN NASUTION: BIOGRAFI DAN PEMIKIRANNYA Diajukan untuk memenuhi tugas makalah mata kuliah Pemikiran Islām Kontemporer yang diampu oleh Dr. Endis Firdaus, M.Ag dan Cucu Surahman, M.Ag, MA




Oleh M. Jiva Agung                        (1202282)



PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN AGAMA ISLĀM FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG 2015

KATA PENGANTARPuji dan Syukur kami panjatkan kepada Allāh karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya saya dapat menyusun makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini membahas tentang “Harun Nasution: Biografi dan Pemikirannya”. Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Maka dari itu, harapan saya semoga makalah ini dapat membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, tak lupa juga kritik konstruktif dan saran yang membangun dari anda sangat kami harapkan untuk memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Sikap manusia terhadap binatang dan tumbuh-tumbuhan

Manusia diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi khalifah di muka bumi (Al-Baqarah: 30). Apakah sebenarnya khalifah itu? Ahli tafsir Indonesia, Quraish Shihab menyatakan bahwa kata khalifah pada mulanya berarti menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya. Dapat juga diartikan sebagai wakil. Maka dari itu sahabat Rasul yang empat –Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali- disebut sebagai khulafau-rasyidin. Yaitu wakil Rasul sepeninggal beliau. Kita sering dituntut untuk bertawakal, yang berarti berserah diri. Karena jika manusia telah melakukan usaha dengan semaksimal mungkin, tinggal menyerahkan/ mewakilkan urusannya kepada Sang Khalik. Sehingga manusia disebut khalifah, karena merekalah yang akan menjadi wakil Allah untuk melestarikan bumi ini. Tetapi jangan anda pikir bahwa manusia menjadi berstatus Tuhan yang melakukan sesuatu sekehendaknya. Tidak. Manusia hanya diberikan mandat berupa hal-hal yang telah ditentukan oleh-Nya. Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manus…