Langsung ke konten utama

Kisah Kaum Yasin dalam Al-Qur'an

   
    Allāh  berfirman:  Dan buatlah bagi mereka suatu perumpamaan, Yaitu penduduk suatu negeri ketika utusan-utusan datang kepada mereka. (yaitu) ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, Maka ketiga utusan itu berkata: "Sesungguhnya Kami adalah orang-orang di utus kepadamu". Mereka menjawab: "Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti Kami dan Allāh  yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka". Mereka berkata: "Tuhan Kami mengetahui bahwa Sesungguhnya Kami adalah orang yang diutus kepada kamu". Dan kewajiban Kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allāh ) dengan jelas". Mereka menjawab: "Sesungguhnya Kami bernasib malang karena kamu, Sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya Kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami". Utusan-utusan itu berkata: "Kemalangan kamu adalah karena kamu sendiri. Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang)? sebenarnya kamu adalah kaum yang melampui batas". Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: "Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu". Ikutilah orang yang tiada minta Balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan? Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain nya jika (Allāh ) yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafaat mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; Maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku. Dikatakan (kepadanya): "Masuklah ke syurga". ia berkata: "Alangkah baiknya Sekiranya kamumku mengetahui. Apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku Termasuk orang-orang yang dimuliakan". Dan Kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah Dia (meninggal) suatu pasukanpun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; Maka tiba-tiba mereka semuanya mati. (QS. YāsĪn: 13-29)
Pada surat ini Allāh  menguraikan satu contoh cerita tentang kisah penduduk suatu negeri. Keadaan mereka tidak jauh dengan keadaan masyarakat Makkaħ saat itu yaitu menolak risalah kenabian. Dalam konteks risalah kenabian, apada ayat ini Allāh  memerintahkan Rasūl Allāh bahwa : Dan buatlah, yakni sampaikanlah,  bagi mereka kaum musyrikin Makkaħ itu dan siapa saja yang serupa dengan mereka --sampaikanlah suatu perumpamaan-- yakni berita yang menakjubkan yang mereka dapat tarik pelajaran sehingga mendorong mereka beriman dan  takut jangan sampai serupa dengan keadaan penduduk suatu negeri ketika  utusan-utusan  kami atau utusan-utusan NabĪ ‘Īsa. Datang kepadanya, yakni kepada penduduk negeri itu, yaitu ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan agar mereka saling menguatkan, lalu tanpa lama dan banyak berfikir mereka mendustakan keduanya; maka segera Kami kuatkan  kedua utusan terdahulu dengan utusan yang ketiga, lalu mereka bertiga bersama-sama  berkata “sesungguhnya Kami kepada kamu secara khusus adalah utusan-utusan Allāh”  (Shihāb, 2002, p. 124)
Menurut ( (KaśĪr, 2010, p. 403) telah terkenal pada ulama kalangan salaf dan khalaf bahwa nama negeri tersebut bernama Anṭakiyaħ, yaitu suatu kota lama di wilayah Sūriya dewasa ini. Hal ini diriwayatkan oleh Ibn Isḥāq yang berasal dari Ibn ‘Abbās Demikian halnya yang diriwayatkan dari ‘Ikrimaħ, Qatadaħ, Az-ZuhrĪ dan lain-lainnya. Tetapi dalam (Shihāb, 2002, p. 124) pendapat ini ditolak sementara oleh beberapa ulama dengan alasan bahwa Anṭakiyaħ tidak pernah dibinasakan, baik pada masa NabĪ ‘Īsa maupun sebelumnya, sedangkan kisah negeri yang diuraikan disini menegaskan pembinaan penduduk negeri itu. Di sisi lain penduduk negeri itu dikenal sebagai penduduk pertama yang mempercayai kerasulan ‘Īsa dan disana dikenal banyak sekali pemuka-pemuka agama Kristen.
Pada permulaan abad tahun masehi Anṭakiyaħ merupakan salah satu kota yang penting sekali di Sūriya utara. Tempat ini adalah kota Yunani yang dibangun oleh Seleucus Nicator, salah seorang pengganti Iskandar Agung, sekitar 300 tahun P.M untuk mengenang ayahnya yaitu Antiochus. Letak kota itu dekat laut, dan pelabuhannya di Seleusia. Tak lama sepeninggal NabĪ ‘Īsa, murid-muridnya berhasil menyebarkan agama disana. Dan disanalah murid-murid itu disebut pertama kalinya dengan “kristen” kemudian tempat itu menjadi pusat keuskupan yang sangat penting dalam gereja kristen.  (‘AlĪ, 1994, p. 1030)
    Ibn Isḥāq berkata yang ia dapatkan dari Ibn ‘Abbās, Ka’ab Al-Aḥbār dan Wahb bahwa mereka berkata: “Dahulu mereka memiliki seorang raja yang bernama Antikus bn Antikus yang menyembah berhala. Maka Allāh  mengutus tiga orang Rasūl, yaitu: Ṣādiq, Maṣdūq,dan Syalūm. Namun mereka mendustakan ketiga Rasūl tersebut. Mereka adalah para Rasūl yang diutus oleh Allāh. Namun Qatadaħ beranggapan bahwa ketiga utusan datang dari ‘Īsa. Demikian yang hanya diungkapkan oleh Ibn JarĪr dari Wahb dari Ibn Sulaimān dari Syu’aib al-jabāĪ, ia berkata: “Nama-nama Rasūl tersebut adalah: Syam’ūn, Yohanā, dan Paulus. Sedangkan negeri tersebut bernama Anṭakiyaħ.” Namun pendapat ini sangat lemah, sebab Anṭakiyaħ adalah kota pertama yang beriman kepada ‘Īsa ketika ketiga ḥawāriyyūn tersebut diutus kepada mereka. (KaśĪr, 2010, p. 403)
    Oleh karena itu, Anṭakiyaħ adalah salah satu kota dari empat kota yang didiami oleh banyak uskup. Keempat kota tersebut ialah Anṭakiyaħ, al Quds, Iskandariyaħ, dan Romā. Setelah itu ditambah lagi kota QaṣantĪniyyaħ. Namun kota-kota tersebut tidak dihancurkan oleh Allāh. Sedangkan penduduk kota yang tertera dalam Al-Qur’ān tersebut telah dihancurkan oleh Allāh , sebagaimana yang tertera dalam akhir kisah penduduk tersebut setelah mereka membunuh ḤabĪb An-Najjār. Firman Allāh  yang artinya: “Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua mati.” (QS.YāsĪn: 29) (KaśĪr, 2010, p. 405)
    Terkecuali bila dikatakan bahwa ketiga Rasūl tersebut diutus kepada penduduk Anṭakiyaħ, lalu mereka mendustakannya, kemudian Allāh  menghancurkan mereka. Setelah itu kota tersebut dibangun kembali dimasa ‘Īsa, lalu mereka beriman atas kerasūlan ‘Ῑsa, maka pendapat ini dapat dibenarkan. (KaśĪr, 2010, p. 405)
Dalam (Shihāb, 2002, p. 124) ulama juga berbeda pendapat tentang ketiga orang utusan tersebut , apakah mereka Rasūl- Rasūl yang diutus langsung oleh Allāh  atau mereka adalah utusan-utusan yang merupakan murid-murid NabĪ ‘Ῑsa, yang beliau utuskan atas perintah Allāh . Penganut pertama dikuatkan dengan dalil “ketika Kami mengutus kepada mereka ” sebagai dalil tentang pengutusan Allāh  secara langsung. Sedang penganut kedua hanya melihat pada kalimat al-mursalĪn yakni utusan-utusan. Penganut pendapat kedua agaknya terpengaruh oleh apa yang terdapat dalam Perjanjian baru, khususnya dalam Kisah Para Rasūl XIII, yang antara lain menyatakan bahwa di Anṭakiyaħ ketika itu terdapat beberapa NabĪ dan pengajar , yakni Barbanas, Simeon, Lukius, Menahem, dan Paulus.
Tetapi menurut Ibn ‘Abbās, condong berpendapat yang dimaksud dengan Rasūl- Rasūl disini ialah Rasūl- Rasūl Allāh yang dikirim untuk menguatkan syariat ‘Ῑsa, seperti Hārūn untuk menguatkan Mūsā.  (aṣ-ṣiddĪqy, 2000, p. 3407)
 Ibn Kaśir mengungkapkan bahwa pendapat yang mengatakan bahwa kisah yang tertera dalam Al-Qur’ān diatas adalah kisah para sahabat ‘Īsa, maka pendapat ini adalah ḍa’Īf. Sebab secara redaksi Al-Qur’ān menunjukkan bahwa para Rasūl tersebut diutus oleh Allāh. (KaśĪr, 2010, p. 406)
Menurut (Shihāb, 2002, p. 124) siapapun Rasūl- Rasūl yang dimaksud oleh ayat diatas—yang pasti dan jelas adalah mereka membawa pesan-pesan Allāh agar mengakui ke-Esaannya, mempercayai risalah kenabian dan hari kebangkitan. Kata ‘azzaznā terambil dari kata ‘azza dan ya’azzu yang berarti menguatkan dan mengukuhkan. Ayat ini merupakan bukti bagi ketetapan Allāh menyangkut kebebasan beragama. Kendati Allāh telah mengukuhkan Rasūl- Rasūl guna meyakinkan masyarakat tentang kebenaran mereka, Allāh tidak memaksa mereka untuk percaya. Memang, tugas para pengajur kebaikan hanya menyampaikan, bukan pemaksaan, karena Allāh hanya menerima keimanan yang tulus sehingga setiap orang dipersilakkan memilih jalan yang dikehendakinya.
Namun penduduk negeri itu malah menolak tuntunan Allāh, mereka enggan mengakui kerasulan, enggan pula percaya bahwa ada tuntunan yang diturunkan Allāh kepada umat manusia. Ibn Asyūr menilai bahwa penduduk negeri yang menolak ini adalah kelompok orang-orang Yahudi dan penyembah berhala yang berasal dari Yunani. Penolakan kehadiran Rasūl- Rasūl itu bisa jadi datang dari para penyembah berhala karena mereka tidak percaya Tuhan mengutus manusia menyampaikan ajaran-Nya. Karena itu, tulisnya: Tersebut dalam perjanjian baru pada kisah para Rasūl bahwa, ketika sebagian penduduk Listra terlihat keluarbiasaan (yakni penyembuhan seorang yang sejak lahir telah lumpuh) yang dilakukan oleh Paulus, mereka berseru dalam bahasa Yunani (Likaonia) bahwa: dewa-dewa telah turun ke tengah-tengah kita dalam rupada manusia. Barnābās mereka anggap Zeus dan Paulus mereka sebut Hermes (baca kisah para Rasūl xiv: 8-12). Boleh jadi juga penolakan itu bersumber dari orang-orang Yahudi penduduk negeri itu karena mereka menolak adanya Rasūl sesudah Mūsā. (Shihāb, 2002, p. 127)
Masih menurut Quraish Shihāb, ayat diatas menggunakan kata Ar-Raḥmān untuk menunjuk Allāh, padahal itu adalah rekaman dari ucapan orang-orang kafir penduduk negeri yang dikunjungi Rasūl tersebut. Pemilihan kata ini menenurut Ibn Asyūr, karena kata itu merupakan kata yang netral bagi penduduk disana. Penduduk Yunani mengakui bahwa Tuhan terbesar ialah Zeus yang merupakan sumber rahmat. Karena itu, mereka dapat menerima kata Ar-Rahman karena kata ini berarti Pencurah Rahmat, sedangkan orang-orang Yahudi sering menghindari penyebutan nama Allāh yang. Mereka sering kali hanya menunjuk Tuhan Yang Maha Esa dengan sifat-Nya.
    Mereka malah menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu” yaitu kami merasa sial atas apa yang kalian sampaikan kepada kami. Mereka melanjutkan: “sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami)  niscaya kami akan merajam kamu.” Ada yang mengatakan yaitu: dengan tindakan. Pendapat pertama dikuatkan dengan ucapan mereka setelah itu: “dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami.” Mereka mengancam para Rasūl tersebut dengan pembunuhan dan penghinaan. (KaśĪr, 2010, p. 406)
Menurut (Shihāb, 2002, p. 128) penduduk negeri tersebut menyuruh untuk para Rasūl tersebut berhenti melakukan dakwah tersebut karena menurut mereka, mereka mendapatkan kesialan dari damapak dakwahnya para Rasūl tersebut dan jika para Rasūl itu tidak berhenti maka mereka akan merajamnya dengan batu hingga mati. Dalam konteks ayat ini, sementara ulama berpendapat bahwa kesialan yang mereka maksud ialah bencana, seperti wabah penyakit, paceklik, dan semacamnya.
Lalu utusan-utusan itu berkata: “Kemalangan kamu adalah kemalangan kamu sendiri” yakni kemalangan itu akan menimpa kalian. “Apakah jika kamu diberi peringatan (kamu bernasib malang?)” yaitu apakah dikarenakan kami telah memberi peringatan kepada kalian berupa petunjuk dan kami menyeru kalian kepada-Nya, lantas kalian mengancam akan membunuh dan menghina kami? “sebenarnya kamu adalah kaum yang melampaui batas.” (KaśĪr, 2010, p. 407)
    Demikian sikap penduduk tersebut kepada Para Rasūlnya. Berita tentang keadaan mereka pun tersebar dimana-mana dan akhirnya datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki mukmin yang tergugah hatinya melihat sikap kaumnya menghadapi ketiga Rasūl tersebut. Ia mengunjungi tempat mereka dengan berjalan bergegas-gegas dan dengan penuh kesungguhan. Dia berkata menasehati mereka “Hai kaumku ikutilah utusan-utusan itu dalam tuntunan-tuntunan mereka, ikutilah dengan tekun dan sungguh-sungguh walau hanya seorang Rasūl terlebih lagi mereka bertiga yang tidak seorang pun dari mereka yang meminta dari kamu imbalan walau sedikit.” Lelaki mukmin itu diduga oleh sementara pakar bernama ḤabĪb An-Najjār. Beliau menjelaskan kepada penduduk disana bahwa para Rasūl itu tulus dalam menyampaikan risalahnya  dan bersedia meluangkan waktu untk menyampaikan kebenaran tanpa mengharapkan imbalan dari makhluk. (Shihāb, 2002, p. 131)
    Ada riwayat yang menyebutkan bahwa orang itu ialah ḤabĪb An-Najjār, seorang tukang kayu yang menyembah Allāh di dalam gua. (aṣ-ṣiddĪqy, 2000, p. 3407)“dan datanglah dari ujung kota....” orang itu adalah ḤabĪb An-Najjār, sahabat yāsĪn, sebagaimana dalam hadiś, orang ini telah bertahun-tahun menderita penyakit kusta, kemudian Allāh menyembuhkannya dengan perantara tangan utusan NabĪ ‘Īsa. Kemudian ia pun beriman dan masuk islam. Dia tinggal di negeri Anṭakiyaħ ia menggunakan waktunya untuk beribadah kepada Allāh. Namun tatkala sampai kepadanya berita bahwa penduduk kota Anṭakiyaħ ingin menyerang para utusan itu, lalu ia datang dengan bergegas untuk menolong dakwah mereka dan menyeru penduduknya untuk beriman kepada Allāh.  (al-jazāirĪ, 2009, p. 160)
    Dalam kisah dinyatakan bahwa ‘Īsa mengutus dua orang Rasul kepada mereka. Keduanya kemudian bertemu dengan orang tua renta yang sedang mengembala kambing milikinya dan dia adalah ḤabĪb An-Najjār, sahabat yāsĪn. Maka mereka mengajaknya kejalan Allāh. Dan mereka berkata: “Kami adalah utusan ‘Īsa untuk mengajakmu beribadah kepada Allāh” dia kemudian meminta mukzizat kepada keduanya, dan keduanya berkata “kami menyembuhkan orang sakit” dan kebetulan dia menemukan seorang anak laki-laki yang gila.  (Al-QurṭubĪ, 2009, p. 37)
    Ibn ‘Abbās, Mujāhid, Muqātil berkata, “Dia adalahh ḤabĪb An-Najjār” dia memahat patung, dan termasuk salah seorang yang beriman kepada NabĪ Muḥammad dan jarak antara keduanya ialah 600 tahun. Sebagaimana juga banyak orang yang beriman kepada beliau, seperti Waraqah bn Naufal dan lainnya, dan tidak ada seorang pun yang beriman kepada NabĪ kecuali setelah kemunculannya. (Al-QurṭubĪ, 2009, p. 45)
    Wahb berkata: ḤabĪb An-Najjār berpenyakit kusta dan rumahnya terletak di salah satu ujung pintu gerbang kota. Dia telah menyembah berhala selama 70 tahundan dia menyeru mereka, barangkali mereka mengasihinya dan menyembuhkan sakitnya. Namun mereka tidak memenuhi seruannya. Ketika dia melihat utusan-utusan itu yang mengajaknya untuk menyembah Allāh, lalu dia berkata, “apakah kamu memiliki suatu bukti?” mereka menjawab, “Iya. Kami tinggal berdoa kepada Tuhan kami dan Dia menyembuhkan penyakitmu.” ḤabĪb An-Najjār berkata, “Sungguh luar biasa! Aku telah berdoa kepada Tuhan ini (berhala) selama 70 tahun dan meminta menyembuhkanku tetapi ia tidak mampu. Maka bagaimana Tuhanmu bisa menyembuhkanku dalam sekejap?” mereka menjawab, “Iya. Tuhan kami Maha Kuasa atas segala yang dikehendakinya. Sedangkan berhala ini tidak mendatangkan manfaat dan tidak pula mendatangkan kemudaratan.” (Al-QurṭubĪ, 2009, p. 46)
    ḤabĪb An-Najjār kemudian beriman dan mereka berdoa kepada Tuhan mereka. Allāh lalu menyembuhkan penyakitnya, seolah-olah dia tidak pernah mengalami penyakit itu. Pada saat itulah dia pergi bekerja. Jika tiba waktu petang, dia bersedekah dari hasil kerjanya. Dia memberikan separuh dari penghasilannya sebagai nafkah bagi keluarganya, dan separuhnya  untuk sedekah. Ketika kaumnya ingin membunuh para utusan itu, dia dating kepada merekadan berkata, “hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu… ” (Al-QurṭubĪ, 2009, p. 46)
    Selanjutnya seorang laki-laki mukmin itu memerintahkan dengan tegas agar mengikuti tuntunan rasul sambil menyebut alasan-alasannya, kini secara tegas pula beliau menolak sikap kaumnya, dan dengan alasan yang tegas pula – menjadikan diri beliau sebagai contoh. Dia berkata : “Apakah layak aku memaksakan diri menentang fitrah kesucian dengan manjadikan, yakni mneyembah, selain-Nya sebagai Tuhan-Tuhan? ” jelas itu adalah sikap yang buruk lagi tercela. Jika Tuhan pelimpah kasih kepada seluruh makhluk itu menghendaki terhadap diriku atatu siapapun walaupun sedikit bencana, niscaya tidaklah berguna bagiku dan bagi siapapun syafaat mereka.—yakni berhala dan Tuhan-Tuhan selain Allāh. Maka dengarlah ucapan dan penjelasan aku ini dan ikutilah tuntunan para Rasul itu. (Shihāb, 2002, p. 135)   
    Ada yang mengatakan laki-laki itu adalah orang yang datang dari ujung kota dalam keadaan yang bergegas. Dia pun memberitahukan kabar kepada masyarakat, sehingga banyak orang yang sembuh dari sakit. Raja kemudian mengirim utusan kepada keduanya utuk mencari informasi tentang keduanya. Kedua utusan ‘Īsa itu lalu berkata: “kami berdua adalah utusan ‘Īsa” orang itu bertanya: “apa tanda yang ada pada kalian berdua?” “kami bisa menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya dan orang yang berpenyakit lepra, serta menyembuhkan orang yang sakit lainnya dengan izin Allāh, dan karena itu kami mengajak kepada kamu untuk beribadah kepada Allāh satu-satunya” Mendengar penuturan itu, raja lalu ingin memukul keduanya. Wahb berkata: Raja menahannya dan mencambuknya sebanyak seratus kali cambukan. Kabar itu lalu terdengar oleh ‘Īsa. Maka dia pun mengirimkan utusan yang ketiga. Al-Qurthubi melanjutkan bahwa ada yang mengatakan, dia adalah Syam’ūn, pemimpin para pengikut ‘Īsa, yang diutus untuk menolong keduanya. Ia bergaul baik dengan pengikut raja hingga dia berhasil mengambil hati mereka dan mereka pun tunduk kepadanya. Mereka kemudian menyapaikan pesannya kepada raja dan raja juga tunduk kepadanya, sehingga dia menunjukkan persetujuannya terhadap agamanya dan rela dengan jalan yang ditempuhnya. (Al-QurṭubĪ, 2009, p. 37)
    Pada suatu hari utusan ‘Īsa yang ketiga ini berkata kepada sang raja, “saya mendengar kamu menahan dua orang yang mengajakmu untuk menyembah Allāh. Bagaimana jika kamu menanyakan kepada keduanya, siapa orang yang dibelakangnya?” Raja menjawab, “kemarahan telah mengahalang antara aku dan keduanya untuk menanyakan hal itu” Utusan ‘Īsa berkata, “Bagaimana jika kamu mendatanginya?” Raja kemudian menyuruh untuk mendatangan keduanya. Syam’ūn,  lalu berkata kepada keduanya, “apa bukti dari kalian berdua atas apa yang kalian dakwahkan?” Keduanya berkata, “kami menyembuhkan orang yang buta dari lahir dan orang yang berpenyakit lepra.” (Al-QurṭubĪ, 2009, p. 37)
Masih dalam Al-QurṭubĪ, seorang anak yang matanya tertutup karena tonjolan di tempat itu didatangkan. Maka kedua utusan ini berdoa kepada Tuhannya, sehingga pecahlah tonjolan tersebut. Dia lalu mengambil dua gumpal tanah dan meletakkannya di pipinya. Ajaibnya, keduanya lalu menjadi mata yang dengannya dia dapat melihat. Raja merasa kagum dan berkata, “disini sesungguhnya ada seorang anak yang telah meninggal sejak tujuh hari dan aku belum menguburnya, hingga datang kedua orang tuanya, apakah Tuhan kalian berdua bisa menghidupkannya?” (Al-QurṭubĪ, 2009, p. 38)
Kedua utusan itu kemudian berdoa dengan suara keras. Sedangkan Syam’ūn,  berdoa dengan suara yang pelan. Tiba-tiba mayat itu berdiri dan berkata kepada semua orang, “Sesungguhnya aku telah meninggal sejak tujuh hari, dan aku mendapatkan diriku musyrik. Karena itu aku dimasukkan ke tujuh tempat di neraka. Maka aku peringatkan kepada kalian agar kalian beriman kepada Allāh. Pintu-pintu langit kemudian terbuka dan aku melihat seorang pemuda tampan meminta syafaat kepada ketiga orang itu; Syam’ūn,  dan kedua orang temannya, hingga Allāh menghidupkanku. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allāh satu-satunya dan tidak ada sekutu bagi-Nya dan bahwa ‘Īsa adalah roh yang ditiupkan oleh Allāh dan diajak bicara oleh-Nya, dan bahwa mereka adalah utusan-utusan Allāh.” (Al-QurṭubĪ, 2009, p. 39)
Al-QurṭubĪ melanjutkan, orang-orang yang hadir berkata kepadanya, “Ini Syam’ūn,  juga bersama mereka?” dia menjawab, “Iya, dia adalah yang terbaik dari mereka” Syam’ūn,  lalu memberitahukan kepada mereka bahwa dia adalah utusan ‘Īsa kepada mereka. Perkataannya berpengaruh kepada raja, sehingga ia mengajaknya kejalan Allāh. Raja kemudian beriman ditengah banyak orang.
Al QusyairĪ mengisahkan, bahwa raja itu beriman dan kaumnya tidak beriman. JibrĪl berteriak dengan satu kali teriakan yang menyebabkan kematian orang-orang kafir yang masih hidup. (Al-QurṭubĪ, 2009, p. 39)
Diriwayatkan bahwa ‘Īsa ketika memerintahkan kepada mereka untuk pergi ke daerah itu, mereka berkata, “Wahai para NabĪ Allāh, sesungguhnya kami tidak tahu untuk berbicara dengan lisan dan bahasa mereka.” ‘Īsa lalu berdoa kepada Allāh untuk mereka sehingga mereka tertidur ditempatnya. Mereka bangun dari tidurnya, sedangkan malaikat telah membawa mereka ke negeri Anṭakiyaħ. Masing-masing orang dari mereka kemudian berbicara dengan bahasa kaum itu. Itulah maksud Allāh “Dan kami memperkuatnya dengan Rūhūl Quddūs” (Al-QurṭubĪ, 2009, p. 40)
Muqātil berkata, “mereka tertahan oleh hujan selama tiga tahun. Mereka lalu berkata, ‘nasib malang ini karena kamu’ ” Ada yang mengatakan bahwa utusan-utusan itu bermukim bersama mereka dan memberi peringatan kepada mereka selama sepuluh tahun. (Al-QurṭubĪ, 2009, p. 40)
Berbeda dengan pengakuan sang raja, penduduk negeri itu sangat geram dan marah mendengar kelantangan pengakuan dan nasihat ḤabĪb An-Najjār. Maka mereka melemparnya dengan batu hingga gugur sebagai syahid. Ketika iu datanglah malaikat menyambut ruhnya. Dikatakan kepadanya oleh para malaikat: “masuklah ke surga , yakni bergembiralah dengan surga yang akan engkau masuki kelak atau nikmatilah kenikmatan surgawi di alam kubur sebelum menikmati surga yang akan engkau huni” mendengar kabar tersebut, ia yang demikian suci hatinya lagi tidak menaruh dendam walau kepada para pembunuhnya berkata : “alangkah baiknya sekiranya kaumku mnegetahui ” yang sedang kau alami ini dan mengetahui pula apa yang menyebabkan Tuhan pemelihara yang selalu berbuat baik kepadaku mengampuni aku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan. Seandainya kumku mengetahuinya, tentulah mereka akan beriman dan patuh. (Shihāb, 2002, p. 137)
Menurut Qatadaħ, , umat tersebut merajam ḤabĪb An-Najjār dengan batu, sedangkan ḤabĪb An-Najjār sendiri terus mengatakan, “wahai Tuhanku, tunjukkanlah umatku, karena mereka tidak menegtahui” kaumnya tetap saja merajam dia sampai dia menghembuskan nafas terakhirnya. (aṣ-ṣiddĪqy, 2000, p. 3413)
Dalam (KaśĪr, 2010, p. 407) menyatakan bahwa disela-sela akhir dari kematiannya, laki-laki tersebut berbicara kepada para Rasūl sebagaimana Firman Allāh  yang artinya: “Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu maka dengarkanlah (pengakuan keimanan) ku.” (Qs. YāsĪn: 25)
    Ada yang menyatakan: “maka dengarlah ucapanku dan persaksikanlah hal itu dihadapan Rāb kalian”. Ada yang mengatakan makna ayat diatas: wahai kaum ku dengarlah keimananku kepada Rasūl Allāh  dengan terang-terangan ini. Saat itulah orang–orang membunuhnya. Ada yang mengatakan: orang-orang merajamnya. Ada yang mengatakan: orang-orang menyerangnya secara serempak dan membunuhnya.
Dari Ibn ‘Abbās, ia berkata: laki-laki tersebut ialah ḤabĪb An-Najjār. Ia gemar berṣadaqaħ, namun kaumnya telah membunuhnya. Oleh karenanya Allāh berfirman: “Dikatakan (kepadanya) masuklah ke surga” yakni setelah kaumnya membunuhnya, maka Allāh memasukkannya kedalam surga. Setelah ia melihat kebahagiaan dan keindahan di dalam surga, maka ia berkata: “alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan .” (QS. YāsĪn: 26-27) (KaśĪr, 2010, p. 408)
Lalu Allāh berfirman, yakni Kami tidak pelu menurunkan pasukan dari langit untuk membalas perbuatan mereka. Maka inilah yang diriwayatkan oleh Ibn Isḥāq dari sebagian sahabatnya dari Ibn Maṣ’ūd. Mujāhid dan Qatadaħ berkata: Makna: “Dan Kami tidak mengirim kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukan pun” yakni risalah yang lain.” Ibn JarĪr  berkata: “pendapat yang pertama ialah pendapat yang benar” Aku berkata (Ibn Kaśir): Pendapat inilah yang lebih kuat. Oleh karena itu, Allāh berfirman: “dan tidak layak Kami menurunkannya” yakni kami tidak butuh untuk membalas hal ini ketika mereka mendustakan para Rasūl Kami dan membunuh para wali Kami. (KaśĪr, 2010, p. 409)
    Firman Allāh  SWT yang artinya: “Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua mati.” (QS. YāsĪn: 29)
    Para ahli tafsir mengatakan: Allāh  mengutus malaikat JibrĪl untuk membuka dua daun pintu gerbang kota tersebut. Lalu ia berteriak kepada mereka dengan satu teriakan. Maka tiba-tiba mereka mati semua. Yakni suara tersebut menjadikan mereka tidak dapat bersuara dan tidak dapat bergerak. Tidak ada satu pun yang tersisa dari mereka.
Suara teriakan berasal dari JibrĪl ini pendapat para ahli tafsir. Jika pendapat ini bersumber dari Rasūl Allāh  maka kita wajib meyakini dan mengimaninya. Jika tidak bersumber dari beliau, maka hal tersebut tidak perlu diyakini. Karena bisa jadi malaikat selain JibrĪl yang melakukannya. (al-jazāirĪ, 2009, p. 163)
NabĪ Muḥammad mempersamakan sahabat beliau ‘Urwah bn mas’ūd dengan lelaki muslim tokoh kisah diatas. Urwah mengunjungi berhala yang disembah suatu kaum, yaitu al-lāt dan al-‘uzza sambil melecehkannya. Mereka marah lalu sang sahabat tersebut berseru: “Peluklah agama islam agar kalian selamat” tetapi salah seorang memanahnya dan mengenai urat nadi di lengannya sehingga beliau gugur. NabĪ bersabda “dia seperti seorang tokoh surat yasin yang berkata alangkah baiknya sekiranya kaumku mengetahui apa yang menyebabkan tuhanku mengampuni aku dan menjadikan aku termasuk orang-orang yang dimuliakan’ ” (HR. AbĪ Ḥātim) (Shihāb, 2002, p. 138)
Kata AbĪ Laila: ada tiga orang yang tidak pernah kufur sekejap pun , yaitu ΆlĪ bn AbĪ Ṭālib, sahabat yāsĪn dan seorang mukmin dari keluarga Fir’aun. (aṣ-ṣiddĪqy, 2000, p. 3407)    Kesemuanya  cerita diatas menunjukkan bahwa penduduk negeri ini bukan penduduk kota Anṭakiyaħ. Sebab penduduk negeri tersebut telah dihancurkan karena pendustaan mereka terhadap para Rasūl Allāh  yang diutus kepada mereka. Sedangkan penduduk Anṭakiyaħ beriman dan mengikuti utusan ‘Īsa dari kalangan ḥawāriyyūn yang diutus kepada mereka. Oleh karena itu,  dikatakan: Anṭakiyaħ adalah kota pertama yang beriman kepada ‘Īsa. (KaśĪr, 2010, p. 409)








Daftar Pustaka
‘AlĪ, A. A. (1994). Qur'an Terejmah dan Tafsirannya. Bogor: Pustaka Litera.
al-jazāirĪ, A. b. (2009). Tafsir Al Quran Al Aisar. Jakarta : Darus Sunnah.
Al-QurṭubĪ. (2009). Tafsir Al Qurthubi. Jakarta : Pustaka Azzam.
aṣ-ṣiddĪqy, T. m. (2000). Tafsir Al Quranul Majid An Nur. Semarang: PT Pustaka Rizki Putra.
KaśĪr, I. (2010). Kisah Para Nabi dan Rasul. Jakarta: Pustaka As-Sunnah.
Shihāb, Q. (2002). Tafsir Al Misbah. Jakarta: Lentera Hati.















Komentar

Postingan populer dari blog ini

ORGANISASI DAN LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM DI INDONESIA

Harun Nasution: Biografi dan Pemikirannya

HARUN NASUTION: BIOGRAFI DAN PEMIKIRANNYA Diajukan untuk memenuhi tugas makalah mata kuliah Pemikiran Islām Kontemporer yang diampu oleh Dr. Endis Firdaus, M.Ag dan Cucu Surahman, M.Ag, MA




Oleh M. Jiva Agung                        (1202282)



PROGRAM STUDI ILMU PENDIDIKAN AGAMA ISLĀM FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG 2015

KATA PENGANTARPuji dan Syukur kami panjatkan kepada Allāh karena berkat limpahan Rahmat dan Karunia-Nya saya dapat menyusun makalah ini tepat pada waktunya. Makalah ini membahas tentang “Harun Nasution: Biografi dan Pemikirannya”. Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Maka dari itu, harapan saya semoga makalah ini dapat membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, tak lupa juga kritik konstruktif dan saran yang membangun dari anda sangat kami harapkan untuk memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Sikap manusia terhadap binatang dan tumbuh-tumbuhan

Manusia diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi khalifah di muka bumi (Al-Baqarah: 30). Apakah sebenarnya khalifah itu? Ahli tafsir Indonesia, Quraish Shihab menyatakan bahwa kata khalifah pada mulanya berarti menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya. Dapat juga diartikan sebagai wakil. Maka dari itu sahabat Rasul yang empat –Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali- disebut sebagai khulafau-rasyidin. Yaitu wakil Rasul sepeninggal beliau. Kita sering dituntut untuk bertawakal, yang berarti berserah diri. Karena jika manusia telah melakukan usaha dengan semaksimal mungkin, tinggal menyerahkan/ mewakilkan urusannya kepada Sang Khalik. Sehingga manusia disebut khalifah, karena merekalah yang akan menjadi wakil Allah untuk melestarikan bumi ini. Tetapi jangan anda pikir bahwa manusia menjadi berstatus Tuhan yang melakukan sesuatu sekehendaknya. Tidak. Manusia hanya diberikan mandat berupa hal-hal yang telah ditentukan oleh-Nya. Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manus…